Selasa, 09 Januari 2018

Mimpi

Saat akhirnya ijazah itu di tanganku....aku berucap....mimpiku akan segera terwujud....

Kemudian aku bangun tanpa sempat memulai....ada tubuh mungil di sampingku yang termegap-megap kehausan.

Kuraih tubuhnya, sambil berucap dalam hati, nanti saja....setelah kamu besar, ya.

Kuulangi semua ucapan dan mimpi itu di tahun-tahun berikutnya.....Selembar kertas bukti prestasiku masih tersimpan rapi, "Belum saatnya", gumamku menghibur diri.

Satu per satu kawan lama kutemui lagi. Era media sosial mempercepat pertemuanku dengan mereka yang pernah berjuang bersama.

Teman yang itu S2 di Eropa, yang 2 lagi di Australia, yang satunya di Amerika, teman sekolah meraih doktor di usia muda belia.....sambil kutatap satu per satu wajah itu di laman media sosial mereka, sambil tersenyum mengingat perjuangan mereka.

Tak sadar matahari makin tinggi, bahan makanan masih terbungkus sejak pagi. Lalu dimulailah kehidupan nyataku, mengabil beberapa baskom, menyiapkan masakan untuk 3 tubuh mungil dan seorang lelaki yang menemaniku sejak hari ia mengambil perwalianku.

Aku tetap dengan mimpiku, yang tak pernah kutulis, bahkan telah lama aku tak menulis buku harianku. Banyak hal berubah. Mimpiku tak lagi kamera, berita, investigasi. Ia berubah menjadi cara menata rumah, memasak sehat, mendidik anak, memilih mainan dan sebagainya.

Empat belas tahun sudah kusimpan rapi mimpi itu. Kini di saat tak ada lagi alasan melayani tubuh-tubuh mungil, mimpi itu terkubur dalam. Aku tak menyesal, mimpiku bukannya tak tercapai, ia bertransformasi ke bentuk lain, sebagai hasil dari proses pendewasaan diri. 

Aku mungkin tak akan pernah sempat mewujudkan mimpi itu. Namun ternyata ada satu mimpi yang berada di lapisan terdalam otakku, bangsal ganglia, tempat dimana semua memori terindah dan terburukku tertata indah. Ia terwujud dalam sikap, tindakan, cara berpikirku.

Aku tak inginkan diriku menjadi seperti Ira Koesno idolaku dulu. Cukup dengan daster dan wangi khas ku, komat-kamitku di jam sibuk, memastikan semua anak menjalankan tugas. Mimpiku tentu tak sama dengan milikmu. Tak ada yang salah dengan mimpi, ia pemacu semangat, bahan bakar.

Sekarang bukanlah panggungku, waktuku tak banyak lagi. Jika hidup bagaikan perjalanan, aku memilih tetap di kendaraanku, menjadi penjaga. Sekarang saatnya anak-anak memulai masa depan mereka. Aku dan suami adalah lokomotif belakang mereka.

Ummujita.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar