Rabu, 26 Juli 2017

MemujiMU

Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berada di puncak kesedihannya, beliau berdoa kepada Allah,
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Anbiya: 87).
Adakah beliau meminta sesuatu dalam doa itu? Tidak.
Namun simak pengaruhnya dalam lanjutan ayat,
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
”Maka Kami ijabahi doanya, dan kami selamatkan dia dari kesedihannya, dan demikian pula kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88).
Nabi Yunus ‘alaihissalaam tidak meminta apapun dalam doa itu. Beliau hanya memuji Allah dengan pujian yang paling dicintai-Nya. Begitu mendengar pujian ini dari dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan di tengah kegelapan malam; Allah langsung mengijabahinya seketika, dan mengeluarkannya dari perut ikan.
Mari kita bandingkan dengan hadist berikut,
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku adalah
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ
“Tiada illah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536)
Imam Sufyan bin Uyainah -guru besar Imam Syafi’i- pernah ditanya tentang hadist qudsi: ’Allah berfirman, ”Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan memuji-Ku sehingga tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, Aku akan berikan nikmat yang lebih baik dari pada yang diharapkan orang yang meminta."

Bagaimana dzikir bisa menjadi doa? Maksud pertanyaan orang itu.
Imam Sufyan-pun menjawab dengan menyitir sebait sya’ir yang diucapkan Umayyah bin Abi Shalt saat minta santunan kepada Abdullah bin Jud’an yang terkenal dermawan:
أأذكرُ حاجتي أم قد كفاني حياؤكَ إنَّ شيمتَكَ الحياءُ
إذا أثنى عليك المرءً يوماً كفاهُ من تعرضك الثَّناءُ
كريمٌ لا يُغيرُه صباحٌ عن الخُلُقِ الجميل ولا مساء
Perlukah kusebut hajatku, ataukah rasa malu cukup bagimu, karena engkau memang pemalu?
Bila seseorang menyanjungmu di suatu hari cukuplah itu baginya, daripada harus meminta
Si dermawan yang sifat kedermawannya tidak pernah berubah siang dan sore hari.

Begitu mendengar syair tadi, Ibnu Jud’an langsung menyantuninya. Sufyan bin Uyainah berkomentar, “Jikalau manusia saja cukup dipuji agar dia memberi, lantas bagaimana dengan Sang Pencipta yang Maha Mulia tiada tara?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 49).

Senin, 17 Juli 2017

Masih merindu


..dulu  sy seorang guru, hampir 12 tahun sy menjadi guru di salah satu lembaga pendidikan. 
Saya sangat enjoy dengan pekerjaan itu dan betah berada disitu, sampai-sampai seolah2 lembaga itu menjadi rumah kedua bagi saya. 

Sampai datang keputusan Allah utk saya,  utk meninggalkan pekerjaan itu.
 Sedih, sudah tentu.. 
Tp ini takdir Allah,, 
Meski sedih,  berat,  tp tak bisa menolak. 

Saat itu,  sy merasa takdir Allah itu berat sy jalani,, 

Tapi ternyata...  
Allah mempunyai skenario lain yg jauh lebih baik utk saya. 
Allah menginginkan saya utk menjadi seorang pedagang...  Ya pedagang...
Sebuah pekerjaan yg insyaallah mulia di sisi-Nya. 

Allah Maha Baik,,, 
Ternyata... Menjadi pedagang lebih menyenangkan.  Saya tdk perlu meninggalkan anak saya setiap hari,  mencari tambahan utk kebutuhan sehari2 cukup berada di rumah dengan hasil yg sebanding bahkan jauh lebih besar daripada harus keluar rumah, alhamdulillah.
Utk mengamalkan ilmu yg sedikit di saya, alhamdulillah ada anak2 yg selalu datang ke rumah setiap ba'da magrib yg minta diajari ngaji. 

Itulah takdir Allah, di awal selalu terasa berat,  tetapi di akhir baru kita tahu banyak kasih sayang Allah di dalamnya. 

Dan saat ini,,, saat ini... 
Takdir Allah datang lagi dalam bentuk lain. Saat ini terasa sangat pahit,  tapi sy harus yakini suatu saat akan sy rasakan manisnya.  

Karena Allah Maha Sayang kepada hamba-hambanya,  melebihi rasa sayangnya seorang ibu kepada anaknya.. 

"BERPRASANGKA BAIKLAH TERHADAP SEMUA KETENTUAN ALLAH ATAS MU"

*ditulis sebagai pengingat diri,  dan mudh2an bisa diambil ibroh utk semua...
Artikel teman