Jumat, 14 Agustus 2020

rachel

JANGAN SAMPAI SALAH

Don't judge a book by its cover. You may miss out on a good story.

Jangan menilai orang dari penampilan luar nya. Kamu mungkin akan melewatkan cerita yang bagus.
Itu terjemahan versi saya. 
Kura-kura nya.

Pernah seorang teman duduk mengobrol dengan saya di sebuah acara. Kami sampai pada sebuah topik.
Kemudian dia menjelaskan pada saya tentang topik itu panjang kali lebar, kali tinggi, dibagi volume, atas, bawah, miring.
"Gitu lho, mbak." Dia jelasin ke saya.
Yang dia tidak tahu adalah bahwa sebenarnya saya sudah tahu karena saya juga tertarik dengan topik itu dan pernah menggali banyak informasi mengenainya setahun yang lalu.
Mungkin lebih duluan dari dia.

Saya tahu dia tidak bermaksud sok tahu, tidak ada tendensi seperti itu yang saya tangkap. 
Ga ada energi negatif nya.
Dia hanya ga tahu kalau saya sudah tahu.
Tapi saya ingin bersikap sopan karena dia teman yang baik dan hal yang lain adalah... siapa tahu ada hal-hal lain dari penjelasannya yang saya belum tahu. Saya tentu ingin menambah pengetahuan saya. Kan saya tidak tahu semua hal di dunia ini. Saya juga tidak selalu benar.

Dari dulu saya orang yang suka belajar.
Dulu waktu saya kuliah di Belanda, saya suka sekali malam-malam duduk sambil minum bir Heineken dingin, mengobrol dengan mahasiswa-mahasiswa PhD yang tinggal di asrama kami. Satu lantai bertujuh, hanya saya dan seorang mahasiswa dari negara Cina yang mengambil Master. Yang lainnya mahasiswa Doctoral.
Saya suka belajar dari mereka tentang banyak hal. Apalagi mereka adalah orang-orang yang santai, open-minded, dan tidak sok menggurui. Akhirnya saya merasa ilmu saya nambah.

Hari-hari ini, orang menduga di balik daster-daster saya, otak saya hanya tahu tentang mengurus anak-anak, bumbu dapur, dan kain pel.
Saya sudah membicarakan tentang Special Relativity Theory, tentang bagaimana membuat kurikulum pendidikan untuk satu negara, atau bagaimana membuat chicken dumpling dari orang Cina langsung.
Itu kira-kira 15 tahun yang lalu.

Cerita yang lain...

Beberapa hari yang lalu seorang hater menyerang saya dengan komen-komen kebenciannya. Biasa... sesama perempuan.
Saya gilas, saya pepet, saya pojokkan dia.
Terakhir nya dia bilang...
"Ngebabu dulu gih sana, mak."

Dia tidak tahu, saat itu saya sedang membaca komentarnya di dalam mobil Alphard saya, pulang dari beli bawang, ayam, dan kentang di pasar.
The big boss babu yang naik Alphard.
Or The Babu Big Boss?
Ah whatever.
Babu adalah bagian penting dari siklus kehidupan, dan saya bangga bisa tahu cara ngebabu di rumah sendiri.
Anggap aja saya babu yang suka naik mobil mewah. Di lain waktu saya adalah boss yang suka nyikat kamar mandi. Lagi pengen pergi naik mobil yang itu, ya naik aja. Pengen naik yang ini, tinggal masukin pantat saya. Tentunya ga bawa sikat WC saya.
Aww, saya senang bisa nyombong ketika diperlukan 😁

Sayang sekali seringkali orang menyetarakan kesederhanaan dengan kebodohan atau kemiskinan.
Hati-hati, kita bisa tertipu dan ketinggalan cerita yang bagus.
Sometimes less is more.

Ketahui dan kenali orang lebih dalam. 
Di balik kain yang sederhana, bisa jadi ada hati yang kaya.
Di balik penampakan yang tidak mewah, bisa jadi ada pemikiran yang brilliant.
Dan teori ini dapat dibolak-balik. 
Kaya tidak selalu cerdas atau punya pribadi yang baik.
Walaupun semua itu bukan harga mati. Tergantung individu masing-masing saja.

Emak Rahel Yosi Ritonga 💋

Rabu, 05 Agustus 2020

ibu

Menjadi seorang ibu membuat saya belajar untuk mengerjakan hal-hal “kecil” secara konsisten. Mengapa ada tanda kutip pada kata “kecil”? Sebab seringkali saya mengira apa yang saya lakukan dalam rutinitas sebagai seorang ibu adalah hal “kecil” walaupun sebenarnya “besar”. Kok bisa saya katakan “besar”?

Suatu malam, saya harus tidur lebih larut untuk menyelesaikan pekerjaan. Padahal saya jarang lembur, kecuali terpaksa sekali. Nah, di tengah saya memaksakan diri untuk terjaga, dengan sisa-sisa energi yang ada saya mencoba menyelesaikan pekerjaan. Si sulung merengek mencari saya. Dia resah, dan hanya tenang ketika memegang tangan saya. Setiap kali saya lepas tangannya dan mencoba kembali bekerja, dia kembali merengek, padahal sudah setengah tertidur.

Saya menggerutu dalam hati. “Aduh, padahal sudah dibela-belain ngga tidur!” begitu pekik saya dalam hati. Iya, saya memekik saking sebelnya, tapi ya hanya bisa dalam hati aja supaya tidak membangunkan seisi rumah
Setelah berulang kali mencoba melepas tangan anak sulung dan tidak kunjung berhasil juga, akhirnya saya menyerah. Saya berkata dalam hati disertai rasa pasrah,”Ya ampun, mestinya tangan saya ini kalau dibebaskan bisa dipakai kerja, ini malah cuman diam pegangan tangan, ngga ngapa-ngapain“. 

Ketika akhirnya benar-benar pasrah dan menerima keadaan itu, saya mulai bisa menikmati hangatnya tangan anak sulung saya, sembari tersenyum memandang wajahnya yang kini terlelap. Tiba-tiba saya tersentak oleh suara lembut dalam hati saya.

“Coba lihat tidurnya begitu pulas karena memegang tanganmu. Sebab baginya, kamulah dunianya, kamulah rasa amannya, itu bukan hal yang kecil bukan? Mana yang lebih besar artinya: mengetik materi seminar atau menyediakan rasa aman bagi seorang anak?”

Air mata saya menitik dan hati saya teriris menyadari betapa salahnya saya menilai besar atau kecil dalam peran saya menjadi ibu. 

Teruntuk para ibu yang sedang tergulung dalam rutinitas yang itu-itu saja, yang bahkan untuk memekik pun hanya bisa dalam hati, kita sedang melakukan hal-hal besar. Di mata anak-anak kita adalah segalanya. Lebih dari sekedar besar bukan? Karena segalanya berarti kita tak tergantikan. 

Teruntuk para ibu, yang sedang berjuang menuntaskan ini dan itu yang tak ada habis-habisnya. Ada sepasang mata kecil yang mengamatimu bekerja dan mengagumimu, meneladanimu dalam diam. 

Perjuangan seorang ibu selalu dari hati, meski seringkali tak kita sadari. Percayalah apa yang keluar dari hati, akan menyentuh hati pula. Inilah yang paling berarti, yakni ketika ada sebuah hati yang tersentuh oleh perjuangan kita yang tak kunjung henti. 

Love you moms. We’re on this together