Rabu, 10 April 2019

Anak

Cegah Bulliying Sejak Dini

* Seorang ibu melihat si buah hati yang berumur tiga tahun merebut mainan anak tetangga sehingga dia nangis kejer. Si ibu  melerai tapi ada senyum di bibirnya. Dalam hati bangga. Anaknya bukan anak cengeng yang tiap pingin apa-apa merengek pada ibunya.
(Jangan,Bu! Jangan berbangga. Karena sikap toleransi bisa kita ajarkan sejak sangat dini, bahkan sebelum anak bisa bicara kita bisa ajarkan mana yang boleh mana yang tidak. Merebut mainan dari teman tentu saja tidak boleh dibiarkan)

*Ketika anak sudah TK, kok anak Ibu sering berantem dan sudah mulai geng-gengan. Maunya temenan ma si ini dan si Ono, tidak mau temenan ama si Anu. Bibit bulliying detected.
(Cegah, Bu. Beri pengertian kalau kita harus berteman dengan semua anak di kelas. Jangan bilang wajar berantem, namanya juga masih anak-anak entar juga baikan sendiri.Justru karena mereka masih anak-anak mereka masih sangat lentur. Yang kelihatan mau bengkok dapat dengan mudah diluruskan pada masa ini.

*Saat SD anak sudah banyak bicara dan kritis. Bahkan memberontak. Kadang ngomong kasar, bahkan ngancam kalau tidak dibeliin ini tidak mau sekolah. Kalau tidak ya ngamuk kalau uang jajan tidak sebanyak temannya. Parahnya lagi banyak orang tua nurut aja atas dasar kita kerja kan buat anak? Ngapain pelit. Atau si buyung ngomong kasar, tapi GA tega mau marahin. Ahhh, namanya juga ibu, pasti maafnya seluas samudra.
(Hentikan Pak, Buk!
Dalam masa ini anak seharusnya sudah paham kalau melakukan kesalahan ya harus menerima konsekwensinya yaitu sebuah hukuman. Jangan selalu mengalah pada anak, jangan biarkan dia jadi egois. Menyayangi mereka adalah kewajiban kita. Tapi, mereka juga harus menghormati kita. Paksa dia untuk meminta maaf kalau dia ngomong kasar, dan salah. meskipun terhadap pembantu sekalipun wajib hukumnya minta maaf.
Anak yang terbiasa dituruti segala kemauannya di rumah, maka dia juga akan merasa berhak memaksakan kehendaknya di luar sana. Memaksa temannya menuruti dia (lagi-lagi bulliying)
Anak yang tau cara menghormati orang tua,  dan sopan santun maka dia akan tau cara menghormati gurunya.
Anak yang terbiasa minta maaf kalau melakukan kesalahan pun dia tidak akan segan meminta maaf seandainya melakukan kesalahan dimanapun dan kepada siapapun.)

* Ketika anak memasuki masa Puber (SMP) masa ini, banyak anak yang tiba-tiba asing terhadap orang tua, merasa tidak ada yang mengerti mereka. Makanya mereka lebih senang bersama teman-teman yang juga punya problem serupa. Banyak orang tua millennia yang merasa ingin memberikan kebebasan pada anak-anak ABG itu. Tapi juga ga bebas-bebas amat ya Bu, sesekali juga bisa bicara dari hati ke hati dengan mereka. Jadikan teman mereka. Mereka itu pada masa mencari jati diri. Wajib bagi ortu untuk tau siapa teman-teman anaknya. Jangan-jangan dia mulai merokok, Apa saja yang mereka lakukan di sekolah dan selepas sekolah. Apa ada teman yang tidak ia sukai? Apa alasannya? Jangan-jangan mereka membully anak lain.Siapa yang mereka taksir? Apakah mereka sudah pacaran? Jangan sampai karena tidak ingin mencampuri urusan masa remaja, malah ortu ga tau kalau anaknya dah  dewasa sebelum waktunya.

* Anak SMA orang tua sibuk membanggakan anaknya yang cantik dan gaul. Sibuk ngomongin kalau anaknya banyak yang naksir. Tanpa mengecek gimana pergaulan anaknya, gimana kelakuan mereka di sekolah, apa mereka respect ke guru? Apa mereka sering  bergerombol nyinyiran anak lain? Pada masa ini kalaupun ternyata anda menemukan bahwa anak  anda ternyata tukang bully itu sudah cukup terlambat ya, karena semua  potensi menjadi pembuli harusnya bisa diminimalisir dari semasa dia balita.

Jangan biarkan anak anda berbuat semaunya sendiri.

Ingat, kita tidak bisa mengatur bagaimana anak orang bersikap terhadap anak kita, tapi kita bisa mendidik anak kita bagaimana caranya bersikap, toto kromo, welas asih, menghargai, toleransi kepada anak orang.

Daripada kita terus memaki anak-anak  pembully, menyalahkan orang tuanya, bahkan gurunya, yuk! Mending kita cegah anak kita dulu biar mereka ga jadi pembully. Karena semua berawal dari diri kita.

Selasa, 02 April 2019

Ikhlas

Masya Alloh.........menangis Saya baca ini 😢
Ikhlaslaah duhaai diriiii,,,,,
Ikhlaslaah duhai jiwakuuu,,,,

UNTUKMU PARA IBU RUMAH TANGGA

Jangan bu... Jangan dulu dilanda sendu...

Ketika Engkau mendengar kabar, di kantor barunya sahabatmu kembali mendapat promosi, serta merta dirimu merasa tak berarti sebab hanya tumpukan pakaian kotor yg Kau hadapi sehari2.

Tarik nafasmu, hembuskan perlahan bu... Luruskan niatmu lagi!

Jangan Kau ganggu kekhusyukanmu mencuci dengan perasaan bahwa dirimu tak memiliki prestasi.

Mencuci baju, memantau ketersediaan stok pakaian bersih dan suci, serta mengatur pendistribusian baju siap pakai kedalam lemari, bukanlah sekadar rutinitas yg tak berarti. Jika niatmu agar senantiasa terjaga kebersihan yg adalah separuh dari iman, supaya pakaian suci, yg menjadi syarat diterimanya shalat anggota keluargamu, senantiasa terpenuhi, maka itu adalah amalan yg bernilai tinggi.

Cobalah kalkulasi, berapa pahala yg menyertaimu setiap mereka sholat 5 kali sehari. Dikali seminggu, sebulan, setahun...

Jika Engkau ikhlas bu, melakukan semuanya semata demi meraih ridha Allah Ta'ala, Engkau adalah manajer yg paling berprestasi ketika Yaumul Hisab tiba.

Jangan bu... Jangan dulu dihantui cemburu...

Saat di media sosial Kau dapati, sederet foto teman yg sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, tiba2 Engkau merasa dunia begitu kelabu karena mengantar anak2 ke sekolah adalah perjalanan dinas terjauhmu.

Tarik nafasmu, hembuskan perlahan bu... Kukuhkan kesabaranmu lagi!

Jangan kau usik ketekunanmu mendidik anak2 dengan anggapan bahwa Kau tak memiliki kompetensi.

Menjadi madrasatul 'ula bukan tugas mudah dan perkara remeh belaka. Dibutuhkan kehandalan berpikir dan berstrategi. Sungguh tak mudah 'menaklukkan' anak2, meski itu anakmu sendiri. Karenanya, ketika Engkau memutuskan bahwa Engkau lah yg memegang kendali, bukan guru privat atau guru mengaji, sesungguhnya Engkau tengah melakukan investasi yg tak pernah mengenal kata rugi.

Cobalah dirinci. Untuk satu saja kebaikan yg Engkau ajarkan kepada anak2mu, lalu ia amalkan di sepanjang umurnya, untuk setiap huruf hijaiyah yg Engkau kenalkan padanya, hingga ia bisa membaca dan menghapal surat demi surat dalam Al-Quran dengan baik dan benar, lalu ia baca surat2 itu di setiap shalatnya, setiap hari, selama berbulan2 hingga berpuluh2 tahun kemudian. Betapa banyak pahala yg mengalir padamu meski ruh tak lagi dikandung badan.

Jika Engkau ikhlas bu, melakukan semuanya semata demi meraih ridha Allah Ta'ala, Engkau adalah pebisnis paling sukses saat menghuni alam barzah.

Jangan bu... Jangan dulu didera pilu...

Kala sampai berita seorang kawan hendak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yg lebih tinggi, sekonyong2 Engkau sedih karena merasa tak mampu lagi meng-up grade diri.

Tarik nafasmu perlahan bu... Kencangkan semangatmu lagi!

Jangan kau rusak keistiqamahanmu dalam menuntut ilmu syar'i dengan anggapan itu tak bisa menaikkan gengsi.

Mengkaji kitab2 ulama dalam sebuah majelis ilmu, yg rutin Kau hadiri pada waktu2 tertentu adalah cara meng-up grade diri yg paling diridhai Allah Jalla jalaluhu. Setiap langkah yg menyeretmu sampai majelis itu, setiap tetes bahan bakar yg meluncurkan kendaraanmu menuju ke sana akan diganjar dengan pahala.

Dan tidaklah Engkau duduk di dalamnya dengan penuh ketakziman, kecuali malaikat tengah merentangkan sayapnya, merengkuhmu dengan segenap keberkahan. Ia akan memohonkan untukmu suatu anugerah berharga bernama sakinah. Sebuah ketentraman jiwa yg belum tentu Engkau dapatkan ketika menuntut ilmu selain ilmu agama di universitas manapun di seluruh dunia.

Jika Engkau ikhlas bu, melakukan semuanya semata demi meraih ridha Allah Ta'ala, Engkau adalah penuntut ilmu dengan sebaik2 gelar ketika seluruh manusia berkumpul di Padang Mahsyar.


Jangan bu... Jangan Engkau lakukan itu!

Mengukur segala 'kemewahan' yg Engkau punya dengan nilai2 yg berlaku di dunia. Profesimu itu mulia, sungguh amat mulia. Terlalu mulia untuk kau sandingkan dengan dunia yg buruk lagi hina.

*Nasehat ini terlebih2 untuk diriku sendiri, yg masih amatir dalam profesi ini.
Baraakallahufiikum
✍🏻Movie

#copas
#alummumadrasatulula
#rabbatulbait
#penyemangatdiri