Cegah Bulliying Sejak Dini
* Seorang ibu melihat si buah hati yang berumur tiga tahun merebut mainan anak tetangga sehingga dia nangis kejer. Si ibu melerai tapi ada senyum di bibirnya. Dalam hati bangga. Anaknya bukan anak cengeng yang tiap pingin apa-apa merengek pada ibunya.
(Jangan,Bu! Jangan berbangga. Karena sikap toleransi bisa kita ajarkan sejak sangat dini, bahkan sebelum anak bisa bicara kita bisa ajarkan mana yang boleh mana yang tidak. Merebut mainan dari teman tentu saja tidak boleh dibiarkan)
*Ketika anak sudah TK, kok anak Ibu sering berantem dan sudah mulai geng-gengan. Maunya temenan ma si ini dan si Ono, tidak mau temenan ama si Anu. Bibit bulliying detected.
(Cegah, Bu. Beri pengertian kalau kita harus berteman dengan semua anak di kelas. Jangan bilang wajar berantem, namanya juga masih anak-anak entar juga baikan sendiri.Justru karena mereka masih anak-anak mereka masih sangat lentur. Yang kelihatan mau bengkok dapat dengan mudah diluruskan pada masa ini.
*Saat SD anak sudah banyak bicara dan kritis. Bahkan memberontak. Kadang ngomong kasar, bahkan ngancam kalau tidak dibeliin ini tidak mau sekolah. Kalau tidak ya ngamuk kalau uang jajan tidak sebanyak temannya. Parahnya lagi banyak orang tua nurut aja atas dasar kita kerja kan buat anak? Ngapain pelit. Atau si buyung ngomong kasar, tapi GA tega mau marahin. Ahhh, namanya juga ibu, pasti maafnya seluas samudra.
(Hentikan Pak, Buk!
Dalam masa ini anak seharusnya sudah paham kalau melakukan kesalahan ya harus menerima konsekwensinya yaitu sebuah hukuman. Jangan selalu mengalah pada anak, jangan biarkan dia jadi egois. Menyayangi mereka adalah kewajiban kita. Tapi, mereka juga harus menghormati kita. Paksa dia untuk meminta maaf kalau dia ngomong kasar, dan salah. meskipun terhadap pembantu sekalipun wajib hukumnya minta maaf.
Anak yang terbiasa dituruti segala kemauannya di rumah, maka dia juga akan merasa berhak memaksakan kehendaknya di luar sana. Memaksa temannya menuruti dia (lagi-lagi bulliying)
Anak yang tau cara menghormati orang tua, dan sopan santun maka dia akan tau cara menghormati gurunya.
Anak yang terbiasa minta maaf kalau melakukan kesalahan pun dia tidak akan segan meminta maaf seandainya melakukan kesalahan dimanapun dan kepada siapapun.)
* Ketika anak memasuki masa Puber (SMP) masa ini, banyak anak yang tiba-tiba asing terhadap orang tua, merasa tidak ada yang mengerti mereka. Makanya mereka lebih senang bersama teman-teman yang juga punya problem serupa. Banyak orang tua millennia yang merasa ingin memberikan kebebasan pada anak-anak ABG itu. Tapi juga ga bebas-bebas amat ya Bu, sesekali juga bisa bicara dari hati ke hati dengan mereka. Jadikan teman mereka. Mereka itu pada masa mencari jati diri. Wajib bagi ortu untuk tau siapa teman-teman anaknya. Jangan-jangan dia mulai merokok, Apa saja yang mereka lakukan di sekolah dan selepas sekolah. Apa ada teman yang tidak ia sukai? Apa alasannya? Jangan-jangan mereka membully anak lain.Siapa yang mereka taksir? Apakah mereka sudah pacaran? Jangan sampai karena tidak ingin mencampuri urusan masa remaja, malah ortu ga tau kalau anaknya dah dewasa sebelum waktunya.
* Anak SMA orang tua sibuk membanggakan anaknya yang cantik dan gaul. Sibuk ngomongin kalau anaknya banyak yang naksir. Tanpa mengecek gimana pergaulan anaknya, gimana kelakuan mereka di sekolah, apa mereka respect ke guru? Apa mereka sering bergerombol nyinyiran anak lain? Pada masa ini kalaupun ternyata anda menemukan bahwa anak anda ternyata tukang bully itu sudah cukup terlambat ya, karena semua potensi menjadi pembuli harusnya bisa diminimalisir dari semasa dia balita.
Jangan biarkan anak anda berbuat semaunya sendiri.
Ingat, kita tidak bisa mengatur bagaimana anak orang bersikap terhadap anak kita, tapi kita bisa mendidik anak kita bagaimana caranya bersikap, toto kromo, welas asih, menghargai, toleransi kepada anak orang.
Daripada kita terus memaki anak-anak pembully, menyalahkan orang tuanya, bahkan gurunya, yuk! Mending kita cegah anak kita dulu biar mereka ga jadi pembully. Karena semua berawal dari diri kita.