Rabu, 24 Januari 2018

Just mom

JUST A MOM???

Pagi ini mendadak saya mendapat pesan dari seorang teman lama. Dulu kami sama-sama mengambil pasca sarjana di negeri Belanda. Dia kuliah di Amsterdam, saya di sebuah kota bernama Enschede. Namun kami berdua berasal dari kota yang sama, yaitu Semarang.

Dia bertanya,
"Sudah tahu belum? Lusa ada acara gathering untuk alumni mahasiswa Belanda."

Saya agak loading untuk beberapa detik.
"Oya? Dimana? Jam berapa? Sepertinya memang ada email tentang itu, tapi belum sempet baca," balas saya. 
Beberapa hari yang lalu saya memang disibukkan dengan situasi anak-anak saya yang sakit, sehingga belum sempat membaca email-email yang masuk.

Teman saya menyebutkan tempat dan waktunya. "Coba deh baca emailnya. Kamu dateng nggak? Soalnya reuni yang dulu aku nggak dateng."

Saya sengaja belum membalas pesannya karena sedang berpikir. Sebuah rasa malu tiba-tiba datang tak diundang ke dalam hati saya..., "Saya hanya ibu rumah tangga."
Lucu. Karena selama ini saya mungkin termasuk ibu rumah tangga yang paling percaya diri, karena meskipun saya bukan siapa-siapa... saya amat bersemangat menjalankan "profesi" ini. Walaupun hidup saya murni tanpa ada embel-embel arisan, perkumpulan hot mama, sosialita masa kini, atau girlsquad whatever, saya tetap bangga dengan menjadi diri sendiri.

Oh tapi ternyata ini adalah sebuah perasaan yang sangat manusiawi bila mendadak saya jadi minder. Bagaimana tidak? Ini sudah menjadi sebuah kultur dimanapun juga di belahan bumi ini, bahwa seorang ibu rumah tangga adalah "HANYA."
Hanya ibu rumah tangga. Hanya ngurus anak. Hanya di dapur. Hanya nyuci baju, nyuci piring, nyuci sandal-sandal. Hanya jemur baju dan setrika. Hanya nunggu suami pulang kerja. Hanya bisa minta uang dari suami.
Jaman sekarang ibu-ibu rumah tangga bisa bekerja dari rumah karena maraknya fasilitas jualan online, sehingga bisa punya penghasilan sendiri. Tapi tetap saja... HANYA ibu rumah tangga.

Dan jangankan HANYA. Tapi juga TIDAK.
Tidak ada yang tahu seberapa lelahnya dia.
Tidak ada yang tahu apakah dia bahagia atau tidak.
Tidak ada yang bertanya "Bagaimana kabarmu hari ini?"
Tidak ada penghargaan dan pujian.

HANYA, TIDAK, dan SELALU.
Selalu diremehkan dan dipandang sebelah mata.
Selalu dicibir ketika dia melakukan kesalahan.
Selalu dihakimi ketika dia merasa depresi.
Selalu dicap gila padahal entah siapa yang membuat dia gila.

Tidak heran saya bisa tiba-tiba minder juga. Dari yang percaya diri jadi menciut.

****

Dua belas tahun yang lalu saya termasuk mahasiswa Indonesia termuda yang berhasil lolos berangkat ke Belanda. Dua tahun setelahnya saya berhasil lulus dengan gelar Master of Science dari universitas yang masuk peringkat 150 universitas terbaik di dunia.
Ketika pulang ke tanah air, saya kembali bekerja dengan mendapat gaji yang termasuk tinggi di jaman itu. Dan ingat betul saat dua tahun kemudian dari saat itu, kala suami saya menemui kedua orang tuanya untuk melamar saya, kalimat pamungkasnya adalah "Calonku bergelar Master dan punya pekerjaan yang bagus dengan gaji sekian juta."
Dan itulah salah satu faktor kedua orang tuanya menyetujui, karena kami berdua sama-sama sudah cukup umur dan mapan.
Saya juga belum lupa, tahun itu ketika baru melahirkan dan saya cuti tidak bekerja beberapa bulan di rumah, mertua saya bertanya apakah saya tidak ingin bekerja lagi.

Dan inilah saya beberapa tahun kemudian... Mantap dan bahagia menjadi seorang ibu rumah tangga. Hanya mengurus anak-anak dan rumah tangga. Ada yang bilang bodoh karena orang cerdas lulusan luar negri ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga penuh waktu. Ada lebih banyak lagi yang tidak percaya, dengan penampilan seperti saya yang sehari-hari hanya pakai daster, saya adalah seorang bergelar Master dari Eropa.
Jangankan ibu-ibu bergelar Master, saya lebih sering dikira si embak ketika orang datang ke rumah dan kebetulan saya sedang menyapu atau mengepel.

Jadi... kenapa mendadak kepercayaan diri saya menguap untuk beberapa detik tadi?
Karena bayangan semua alumni yang datang pastilah memiliki profesi yang penting seperti pejabat pemerintah, dokter, dosen, peneliti, atau apa saja. Dan ketika kami mengobrol sana-sini pastilah akan ada pertanyaan basic, "Gawe apa nih?"
Jadi bagaimana saya akan menjawab?
"Saya HANYA ibu rumah tangga."?
Mungkin saya biasa saja. Tapi kira-kira bagaimana dengan yang bertanya? Akankah raut wajahnya jadi aneh?
Ini kira-kira suasananya bakalan seperti ketika seorang lajang ditanya kapan nikah atau saat pasutri ditanya kapan nambah anak bla bla bla. Entahlah.

****

Kemudian saya teringat sosok ibu saya. Beliau adalah anak seorang keturunan bangsawan dan diplomat, namun karena menikah di usia muda, beliau hanya sempat mengecap sekolah diploma dan kemudian tidak pernah bekerja karena tidak diijinkan ayah saya. Tapi apakah saya pernah malu dan mempertanyakan ibu saya? Saya bangga dan sayang setengah mati pada ibu saya. Beliaulah pahlawan saya di dunia.
Yang seluruh hidupnya pontang-panting mengurusi keempat anaknya dan tidak pernah berhenti mengasihi kami tanpa syarat. Beliau selalu ada untuk kami dalam suka dan duka. Definisi murni seorang ibu terwakili dengan jelas oleh ibu saya: sabar, penuh kasih dan sayang, ulet, rajin, bertanggung jawab, dan tegar. 

Saya tak pernah malu ibu saya hanya ibu rumah tangga yang tidak punya gelar pendidikan tinggi dan profesi bergengsi. Yang saya tahu, hidup saya komplet karena memiliki seorang ibu yang sepertinya. Dan terlebih lagi, beliau tidak pernah malu terhadap dirinya sendiri yang sederhana dan bersahaja. Beliau cukup hanya dengan menjadi dirinya sendiri.
Jadi kenapa ya saya harus malu?

Ibu telah memenangkan hati anak-anaknya walaupun beliau hanya ibu rumah tangga. She holds our hearts forever.
Dan melihat diri saya sendiri pada hari ini yang bukan siapa-siapa, saya juga ingin suatu hari nanti anak-anak saya dapat bercerita yang sama tentang ibu mereka.

****

Jadi saya rasa saya sudah siap seandainya lusa datang dan ditanya, "Kerja dimana?"
Toh sudah ratusan kali saya ditanya seperti itu dan mampu menjawab dengan rasa bangga yang sama.

Ibu-ibu rumah tangga alias house wife bahasa kerennya...
Mari tetap menyayangi diri sendiri sebelum kita mampu menyayangi keluarga kita. Terimalah profesi kita dengan bangga dan penuh syukur walaupun tidak ada gemerlap arisan ibu-ibu cantik dengan ootd yang kece. Di penghujung hari, rasa nyaman dan aman keluarga kita di rumahlah yang menjadi tolok ukur kebahagiaan kita sebagai seorang ibu, bukan karena kelompok yang itu atau yang ini.
Biarlah kita dipandang sebelah mata... Tidak perlu pengakuan dunia untuk membuat diri ini utuh, sebaliknya kewajiban kitalah untuk membuat keluarga kita di rumah selalu merasa hangat dan sejahtera.

Keeps going, full of hope, never quits.
Emak Rahel Yosi Ritonga ๐Ÿ’‹

****
Tulisan ini adalah penghargaan saya kepada semua ibu rumah tangga yang mengalami depresi. Saya tidak menghakimi kalian, may God bless and help you all.

Minggu, 21 Januari 2018

Tuty fb

ISTRI DAN KEBAHAGIAANNYA

Seorang suami (sebut saja namanya Budi) bertanya ke saya, “Pak Nas, kenapa ya hutang saya ga lunas lunas?”

Menghadapi pertanyaan sprt ini, biasanya saya jawab dengan mengajaknya menggunakan ilmu “law of projection”, “disiplin kata” atau “garpu tala”. Tapi kali ini saya ingin gunakan jurus berbeda.

Saya tanya balik ke dia “Istri ente bahagia ga sama ente?”

Ditanya pertanyaan berbeda, dia merespon dengan membenarkan pertanyaannya. “Gini pak Nas, ana tanya tentang hutang. Kenapa ya hutang ana ga lunas lunas?”

Sekali lagi saya tanya balik ke dia “iya... ana tanya ente dulu... istri ente bahagia ga sama ente?”

Lama dia terdiam. Lalu dia jawab “kayaknya ga pak nas”

Lalu saya bilang, “ ya sudah... itu jawabannya... ente ga bakal bisa melunasi “hutang” ente kalau istri ente ga bahagia”

“Lho emang ada hubungannya pak Nas?” tanya dia.

“Ya pasti” jawab saya. Lalu saya jelaskan ilmu terumbu karang.

*****

“Di mana Allah titip rezeki untuk manusia?” Ini adalah pertanyaan sederhana, namun banyak manusia tidak tahu jawabannya.

Sementara semua hewan tahu di mana letak rezekinya. Jerapah jika ditanya pasti menjawab di pucuk pohon. Monyet akan menjawab di pohon pisang. Ikan akan menjawab, rezekinya dititip di terumbu karang.

Uniknya, jawaban manusia berbeda-beda. Tidak seragam seperti jawaban hewan. Ada yang menjawab di kantor, di proyek, di bendahara, di mana-mana dan jawaban lain yang menunjukkan sebenarnya kita tidak tahu di mana letak rezeki kita.

Dengan kajian panjang, saya menyimpulkan bahwa rezeki Allah dititip di “Kemuliaan dan Kebahagiaan Orang Lain”. 

Rezeki yang kita dapatkan sebenarnya bukan karena keahlian kita, bukan juga karena jam kerja yang kita curahkan. Tapi lebih karena kita pernah memuliakan dan membahagiakan orang lain. Lalu Allah berikan reward berupa rezeki yang tercurah akibat proses itu.

Jika jerapah menjaga pucuk pohonnya, monyet menjaga pohon pisangnya, maka ikan pun menjaga terumbu karangnya agar dapatkan rezeki. 

Uniknya, manusia dengan mudah menyakiti perasaan manusia lain. Kenapa? Karena tidak tahu konsep “menjaga terumbu karang” ini. Begitulah yang terjadi pada Pak Budi. Dia fokus mencari nafkah di tempat kerja, tapi istri sendiri tidak dia bahagiakan.

*****

Pak Budi menghela nafas. “Terus, apa yang harus saya lakukan pak Nas?”

“Ya sederhana sebenarnya, buat saja istri mulia dan bahagia, karena di sana letak rezeki bapak” jawab saya.

“Kita terlalu sibuk bekerja dan menjadi robot, lalu menganggap dengan aktivitas kita itulah kita mendapatkan rezeki dan mampu membayar hutang-hutang kita. Padahal kita sebenarnya juga bahagiakan orang-orang yang menjadi sebab rezeki kita. 

Pimpinan, anak buah, klien, konsumen, kita jagaaa benar hatinya agar tidak tersinggung. Kenapa? Karena kalau tersinggung sedikit saja, mereka akan menghukum kita dengan berkurangnya bagian rezeki kita. 

Pimpinan mungkin akan memecat kita, anak buah tidak akan semangat bekerja, klien dan konsumen akan lari, jika kita buat tersinggung.

Saat tiba di rumah... dengan mudahnya kita menyakiti hati istri kita. Kadang sebagai suami, kita menganggap istri harus membuat suami bahagia. Kita-lah raja dalam rumah tangga dan dengan semena-mena kita menuntut banyak hal pada istri kita. Kita pakai dalil2 agama untuk mengeksploitasi istri kita. Semuanya tentang kita dan ego kita sebagai suami.

Ujung dari itu semua, istri tidak bahagia. Seperti ikan, saat terumbu karangnya sudah musnah, manalah mungkin dia bisa dapatkan makanan. Saat istri -sebagai orang paling dekat dengan kita- tidak bahagia, manalah mungkin kita akan dapatkan rezeki”

Pak Budi menunduk lalu menatap saya dalam-dalam...

“Sebenarnya... ini adalah kontemplasi saya juga pak...” ujar saya. 

“Oh, pak Nas pernah mengalami?” Tanya pak Budi.

“Ya... begitulah... dulu saya juga orang yang tidak peduli dengan kebahagiaan istri. Terlalu banyak aib jika saya ceritakan... Tapi, sejak saya dapatkan kesimpulan “menjaga terumbu karang” ini, saya balik semua logika saya dalam mencari rezeki.

Saya sudah tidak peduli lagi dengan usaha saya. Saya tidak peduli dengan seberapa banyak nafkah yang saya bisa berikan untuk istri saya. Karena sebenarnya itu hanya dampak dari sikap saya terhadap orang-orang yang paling berharga dalam kehidupan saya. Salah satunya, istri kita.

*****

Suatu saat, ada seorang motivator bisnis dari Amerika. Sesi yang paling saya tunggu adalah pertanyaan tentang rahasia sukses. “Apa rahasia sukses bapak?” Tanya seorang penanya.

Saya sudah menunggu dan menduga jawabannya adalah tentang poin2 manajemen, leadership, kedisipilan atau kerjasama tim. 

Jawabannya sungguh tak terduga. Sambil memegang mesra tangan istrinya, sang motivator menjawab “Happy Wife, Happy Life” 

Sungguh bukan ini rahasia yang saya nantikan. Tapi dengan fasih, motivator itu menjawab dgn susunan logika yang menggugah perasaan saya, bahwa Kebahagiaan Istri lah yang akan membuat hidup seorang suami bahagia.

Ah... malu saya dengan diri saya sendiri. Banyak orang memanggil saya ustadz, tapi kenapa nilai-nilai ini malah dijiwai oleh motivator bisnis dari negara yang dalam citra saya sudah tidak lagi mensakralkan nilai keluarga.

Setelah itu, berhari-hari saya termenung, kalimat “happy wife, happy life” terngiang2 dalam fikiran dan jiwa saya. Akhirnya dengan mantap, saya membuka hati, mau belajar dan menerapkan semboyan sang motivator untuk meniti kesuksesan saya.

*****

Pak Budi masih di depan saya. Masih mencoba mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari lisan saya. Pak Budi memang sedang konsultasi, tapi hakikatnya ini adalah pembicaraan dua lelaki yang saling berkaca. 

Memang tidak mudah menurunkan ego kami sebagai suami. Tapi jika itu yang harus dibayar untuk kesuksesan, kenapa tidak? Sudah terlalu jauh kami berjalan memuaskan ego kami sendiri, dan akibatnya kami tak lagi menemukan bahagia.

*****

“Tapi istri saya keras pak Nas, kadang marah-marah ga jelas, apa yang saya lakukan seperti ga bener semua di mata dia. Kalau sudah begitu, saya ya... kebawa marah” ujar pak Budi

“Ya biar saja lah pak, kadang istri kita memang mesti melampiaskan amarahnya. Satu hal yang akhirnya saya fahami... sejak kita menikahi istri kita, dia punya quota marah yang ga habis-habis... kita harus siap memiliki hati yang luas menghadapinya.

Untuk hal ini, saya terinspirasi dari kisah Nabi Muhammad Saw.

Suatu saat, Nabi saw sedang menerima tamu. Sejurus kemudian, ada ketukan pintu dan memberikan semangkuk sup. “Dari mana sup ini?” tanya Nabi yang dijawab dari istri yang lainnya.

Jawaban itu didengar oleh Aisyah ra di dapur yang juga sedang menyiapkan makanan untuk Nabi yang mulia. Tak diduga, Aisyah keluar dan menghalau mangkuk sup itu dan terjatuh mengenai Nabi saw dan tamunya.

Jika kita menjadi Nabi saw, mungkin penyikapan kita akan marah, atau minimal memberikan pengertian kepada Aisyah ra tentang kesalahan perbuatannya.

Tapi, Dialah Nabi saw yang mulia. Dia hanya mengambil kain membasuh sup yang tumpah di baju beliau dan tamunya dan hanya mengatakan kepada tamunya “maafkan ibumu (ummul mu’minin)... dia sedang cemburu”

Penyikapan yang tepat yang lahir dari keinginan menjaga kebahagiaan istri. Ah... semoga kami mampu mencontoh Nabi kami yang mulia.

****

Kehidupan suami istri laksana lautan dalam yang tak pernah habis digali. Satu hal yang pasti, kita harus pertanggung jawabkan ijab-qobul yang sudah terlanjur terucap dan disaksikan oleh Allah.

Lalu kita terikat amat kuat dengan hukum Allah. “Itsnaani yu’ajjiluhumullahu fid dunya, al-baghyu wa huquuqul waalidayn” ada dua dosa yang dipercepat siksanya oleh Allah di dunia : berbuat sewenang2 (Al-baghyu) dan durhaka kepada kedua org tua.

Al-baghyu yang paling besar adalah kepada istri sendiri. Allah mensejajarkan, menyakiti istri sama dengan durhaka kepada orangtua. 

Kami berdua menghela nafas... tidak mudah memang menjadi suami, dan kami harus terus belajar. Semoga dengan slogan baru : “Happy Wife, Happy Life”, kami bisa dapatkan kebahagiaan dan kesuksesan kami kembali.

Warning : “Tulisan ini hanya akan cocok jika dibaca oleh suami dan dijalankan olehnya, bukan dipaksa2 sama istri untuk membaca dan melakukannya๐Ÿ˜Š️

Tulisan ini juga satu paket dengan tulisan sebelumnya berjudul : suami dan keridhoannya”

Selasa, 09 Januari 2018

Tentang bully

Dulu saat Faiz bayi saya harus bekerja di 2 tempat, lalu ada orang komentar,
"Wah kasihan yaa bayinya harus dititipkan gara-gara ibunya kerja!"

Tahun 2017 Faiz baru masuk SD jadi saya resign hanya beraktivitas di rumah, lalu ada orang komentar,
"Wah sayang yaa ijazahnya dulu susah-susah sekolah sekarang hanya di rumah!"

Demi Allah ini yang berkomentar orang yang SAMA! Nanti kalau sekolah spesialis mungkin saya harus siap-siap jika beredar tulisan viral "kenalanku dokter" #ehh ๐Ÿ˜‚

Mungkin kalian tidak percaya. Tapi di dunia nyata saya memang mengalami sendiri menjadi target nyinyiran orang lain dalam perang prokontra ibu bekerja dan ibu di rumah. Kerja salah. Tidak kerja salah. Itu kalau tujuan hidup cuma buat dapat pengakuan orang lain. Tidak akan bisa kita menyenangkan semua manusia ๐Ÿ˜Š

Alhamdulillah tujuan hidupku itu untuk memenuhi tujuan penciptaan Rabb-ku. Bukan untuk sembah puja-puji semu dari manusia. Saya bisa tidak marah lho dapat komentar nyinyir begini di dunia nyata. Beneran. Digituin saya bisa senyum diam. Tidak dendam. Paling cuma nginget aja selamanya #ehh ๐Ÿ˜…

Dulu LDR saat suami tugas handle proyek di pedalaman juga orang komen kenapa istrinya (saya) tidak ikut. Tanpa mereka mencari tahu situasi pekerjaan disana. Anehnya kenapa bukan memilih pembulian subjek komen ditekankan ke suaminya tidak kerja disini saja. Kan harusnya lebih manusiawi bagi keluarga itu. Kenapa? ๐Ÿ˜‚ 

Woman As A Target Of Bullying

Yaa wanita memang rentan menjadi target. Dicari-cari kesalahan padanya untuk dibuli hingga hancur tak berdaya. Dikatakan jika ada seorang pria dan seorang wanita memiliki hal yang "salah" secara fisik maupun perilaku di mata orang lain, maka kemungkinan besar pria tersebut akan lolos dari komentar. Sementara sang wanita akan habis dicecar.

Kecenderungan ini terjadi dimana-mana pada segala situasi yang biasanya kurang menguntungkan. Sejak masa kanak-kanak, masa ABG pencarian jati diri, cara melahirkan, cara memberi makan anak, hingga setiap pilihan dalam hidup setelah dewasa.

Hidup saya penuh anugrah kemudahan. Saya harus mensyukurinya. Saya mensyukurinya dengan beri pengabdian bagi sesama.

Lagipula pembulian nyinyir orang yang saya terima tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dialami wanita lain. Saya pernah beberapa kali bertemu wanita single fighter dan single mother. Subhanallah... betapa nyinyir pembulian orang pada para wanita single yang sedang berjuang menjaga kehormatan dirinya ini. 

Para perempuan dewasa yang memilih jomblo meski untuk menjaga kehormatan itu dahsyat sekali pembulian yang diterimanya. Mulai dari dikritik terlalu senang bekerja padahal pekerjaan halal, terlalu rajin sekolah sampai gak sempat pacaran hingga kriteria terlalu muluk. Padahal yaa karena belum ketemu jodohnya saja. 

Apalagi para janda. Beuuuhhh... Di mata orang lain menjadi janda itu serba salah. Cerai salah, memilih bertahan juga salah. Dalam setiap kegagalan berumah tangga pasti wanita yang salah! Bahkan meski disitu suami yang selingkuh! ๐Ÿ˜ข

Padahal banyak para janda berjuang hidup baik-baik menjadi orang baik. Tetap saja dipandang negatif. Disakiti dengan komentar yang merendahkan. Tanpa mereka mau tahu perjuangan dibalik kisahnya. Ada seorang ibu tunggal yang dinyinyiri saat dia harus bekerja di luar rumah. Padahal dia memakai busana syar'i dengan pekerjaan halal. Padahal dia harus menghidupi diri dan anaknya. Sementara mantan suami tidak bisa diandalkan.

Ada seorang wanita yang harus berjuang sendirian menjalani SC emergency. Suaminya kabur bersama selingkuhannya. Berat sekali harus hadapi severe engorgement hingga mastitis, bayi jaundice bahkan kemudian ibu mengalami gangguan produksi ASI sebab tekanan hidup luar biasa. Meskipun demikian semangat menyusui bayinya begitu luar biasa. Dia memilih relaktasi saat bayinya harus catch up growth.

Single Mother 

Beberapa hari yang lalu saya menemukan gambar ini di akun instagram @amandaoleander. Tampak seorang wanita sedang menyusui bayi sementara kedua anaknya makan di atas punggung. Sementara itu terlihat baju-baju serta barang berantakan di sekitarnya. 

Pesan gambar ini sangat mendalam. Karikatur ini digambarkannya untuk mewakili perjuangan para ibu yang harus melakukan semua tanggung jawab di rumah. Bisa para ibu yang ditinggal suami bekerja jauh sepanjang hari atau cerai berpisah dari suaminya. Disini terlihat seorang ibu yang harus menangani semua sendiri. Terkadang mereka juga menjadi tulang punggung supaya keluarga tetap makan. 

Jadi masih mau melontarkan komentar negatif ke perjuangan orang lain? Apalagi yang sama-sama perempuan! Saling bantu memberi kemudahan juga support yang membangun akan lebih membahagiakan. Tebarkan cinta supaya dunia lebih indah ☺

Masing-masing kita punya ujian kehidupan masing-masing. Jangan tambah kepahitan hidupmu dengan bersikap pahit ke orang lain. Pilihlah sepatumu sendiri, tapi jangan paksa orang lain pakai sepatumu itu. Lalu berjalanlah di muka bumi ini untuk menebar kebaikan meringankan beban hidup sesama...

Allohu a'lam bishowab

#opiniAnnisa #renungAnnisa

Mimpi

Saat akhirnya ijazah itu di tanganku....aku berucap....mimpiku akan segera terwujud....

Kemudian aku bangun tanpa sempat memulai....ada tubuh mungil di sampingku yang termegap-megap kehausan.

Kuraih tubuhnya, sambil berucap dalam hati, nanti saja....setelah kamu besar, ya.

Kuulangi semua ucapan dan mimpi itu di tahun-tahun berikutnya.....Selembar kertas bukti prestasiku masih tersimpan rapi, "Belum saatnya", gumamku menghibur diri.

Satu per satu kawan lama kutemui lagi. Era media sosial mempercepat pertemuanku dengan mereka yang pernah berjuang bersama.

Teman yang itu S2 di Eropa, yang 2 lagi di Australia, yang satunya di Amerika, teman sekolah meraih doktor di usia muda belia.....sambil kutatap satu per satu wajah itu di laman media sosial mereka, sambil tersenyum mengingat perjuangan mereka.

Tak sadar matahari makin tinggi, bahan makanan masih terbungkus sejak pagi. Lalu dimulailah kehidupan nyataku, mengabil beberapa baskom, menyiapkan masakan untuk 3 tubuh mungil dan seorang lelaki yang menemaniku sejak hari ia mengambil perwalianku.

Aku tetap dengan mimpiku, yang tak pernah kutulis, bahkan telah lama aku tak menulis buku harianku. Banyak hal berubah. Mimpiku tak lagi kamera, berita, investigasi. Ia berubah menjadi cara menata rumah, memasak sehat, mendidik anak, memilih mainan dan sebagainya.

Empat belas tahun sudah kusimpan rapi mimpi itu. Kini di saat tak ada lagi alasan melayani tubuh-tubuh mungil, mimpi itu terkubur dalam. Aku tak menyesal, mimpiku bukannya tak tercapai, ia bertransformasi ke bentuk lain, sebagai hasil dari proses pendewasaan diri. 

Aku mungkin tak akan pernah sempat mewujudkan mimpi itu. Namun ternyata ada satu mimpi yang berada di lapisan terdalam otakku, bangsal ganglia, tempat dimana semua memori terindah dan terburukku tertata indah. Ia terwujud dalam sikap, tindakan, cara berpikirku.

Aku tak inginkan diriku menjadi seperti Ira Koesno idolaku dulu. Cukup dengan daster dan wangi khas ku, komat-kamitku di jam sibuk, memastikan semua anak menjalankan tugas. Mimpiku tentu tak sama dengan milikmu. Tak ada yang salah dengan mimpi, ia pemacu semangat, bahan bakar.

Sekarang bukanlah panggungku, waktuku tak banyak lagi. Jika hidup bagaikan perjalanan, aku memilih tetap di kendaraanku, menjadi penjaga. Sekarang saatnya anak-anak memulai masa depan mereka. Aku dan suami adalah lokomotif belakang mereka.

Ummujita.com

Emak

WHO AM I? WHERE AM I?

Jangan salah mengira. Perempuan yang ada di foto ini bukanlah si mbok mban nya anak saya. Itu saya, mommy nya.
Sekitar sepuluh menit sebelum ia berangkat sekolah, saya minta dia duduk sebentar supaya saya dapat mengujinya dalam Maths Mental Sum. 
Belum sempat saya mandi pagi tadi, karena subuh-subuh saya memasak lauk untuk sarapan dan bekal anak saya. Kemudian saya memandikan anak saya yang kecil, ketika yang sulung sedang mandi.

Memang benar apa yang dikatakan di dalam kutipan-kutipan itu, 
"A mother is a housekeeper, a teacher, a chef, an organizer, a nurse, everything."
Hanya saja ini berlaku buat para ibu yang memang mengalami ini lahir dan batin. Karena pada kenyataannya banyak juga ibu di dunia ini yang tak mau susah payah demi kesejahteraan rumahnya. Bukan karena ia bekerja di luar rumah atau sebuah kondisi yang mengharuskannya demikian, tapi semata-mata karena dia tak mau repot. 

.......

Apakah nilai saya sebagai seorang ibu lantas turun drastis karena saya berpakaian seperti ini dan terlihat lelah?

****

Pada zaman ini, kaum ibu hanya ingin menampilkan satu sisi kehidupannya. Salah satunya karena kemajuan teknologi memberikan fasilitas dimana orang yang tidak dikenal secara pribadipun dapat menilai, apakah kita keren atau tidak.

Gambaran ibu-ibu masa kini dimana ia memeluk atau menggendong anaknya dengan tertawa lepas, seolah-seolah dialah ibu paling bahagia di dunia. Padahal kenyataannya ia merasa lelah dan hampa mengurus anaknya.
Atau gambaran menggendong atau mengurus anak-anak hanya sebuah "scene foto." Setelah foto usai, anak diberikan kepada pengasuhnya.

Gambaran dimana ia foto-foto bersama dengan teman-teman wanitanya. Semuanya menampilkan sosok ibu-ibu zaman now yang gorgeous, eksis, kekinian, "mahmud", "hot mama", mewah, dan cetar.
Padahal dibalik semuanya itu, sebenarnya ia kesepian dan bingung dengan tujuan hidupnya. Ia terus berpikir bahwa "keren" adalah bagaimana orang harus menilai dirinya sebagai ibu.

Kaum ibu berlomba-lomba menampilkan sisi dirinya yang kemilau menurut ukuran dunia, sehingga terkadang ia malah lupa untuk menampilkan sisi terbaik dari dirinya yang sebenarnya.
Ketika ia terlihat lelah mengurus anak-anaknya.
Saat ia sedikit kelabakan mengurus rumahnya.
Pada waktu ia berbicara di telepon dengan girlfriend untuk tanya resep kue.
Atau waktu ia menghapus air mata kesedihannya ketika pasangannya tidak memahami dirinya.

Hal-hal yang manusiawi, yang hampir semua ibu mengalaminya.

****

Dunia saat ini memang terkadang dengan kejam menuntutmu untuk jadi ibu yang super. Termasuk kalau perlu kecantikan dan materi mu harus super. 
Itulah yang ingin berusaha kau penuhi untuk dirimu sendiri. Itu yang kau ingin kejar dan tunjukkan pada mereka semua di luar sana, bahwa kau mampu menjadi seperti itu.
Dan kau jadi hilang arah, ibu.
Frustasi dan memaksa.

"Jangan sampai kalah dengan si itu!" 
Segalanya jangan sampai kalah dengan ibu yang lain: soal gaya, tentang arisan, tentang outfit of the day, tentang tas, sepatu, pakaian anak, pesta ulang tahun, atau holiday.
Tidak heran banyak ibu terlihat seperti cacing kepanasan tanpa ia sadari.
Ia hanya tampak seperti "wanita-keren-biasa," bukan terlihat seperti seorang IBU.

Dan who knows apa yang ada di dalam hatimu yang sebenarnya?

****

Kadang-kadang kita hanya perlu menikmati dan mensyukuri peran sebagai ibu ini di dunia.
Tidak mencoba merekayasa atau mengejar kebahagiaan semu yang mengalihkan perhatianmu sejenak dari peran abadimu di kehidupan ini.

Mungkin saja kau sering lelah, tapi ketika masih bisa berkata,
"I do not lose myself," maka di momen itulah kau akan tahu, bahwa kau betul-betul berbahagia dengan anugrahmu menjadi seorang ibu.
Entah kau punya atau tidak punya.
Apakah kau pintar atau kurang pintar.
Atau apakah kau sendiri atau bersama suamimu.

Be original, be yourself.
Emak Rahel Yosi Ritonga ๐Ÿ’‹

Jumat, 05 Januari 2018

1

JANGAN MENYURUH ANAK ANDA MENJADI JUARA KELAS
(Because everybody has different passion)

Keluarga kami menghabiskan liburan akhir tahun di Danau Toba, sambil memperkenalkan indahnya tanah air kepada anak anak kami.
Di sana kami berjalan-jalan beraama seorang sahabat kami, sebut saja namanya Dokter Jonathan (kami memanggilnya Jo), seorang dokter yang berdomisili di Medan dan memiliki sebuah Rumah Sakit di sana.
Kebetulan saya mengenalnya sejak 30 tahun yang lalu, dan saya mengaguminya karena idealismenya. Jo seringkali mengoperasi anak-anak dengan cacat bawaan sejak lahir.
Sudah tak terhitung berapa anak yang sudah terselamatkan oleh tangan-tangan terampilnya.

Yang lebih mengagumkan lagi, Jo tidak hanya mempunyai prestasi hebat bagi dirinya sendiri. Istrinya (yang juga seorang dokter) pernah menjadi Dokter Teladan Nasional.
Anak-anaknya semuanya mengikuti program akselerasi.
Anak pertamanya, sudah lulus SMA pada usia 15 tahun dan menjadi Dokter Umum pada usia 21 tahun.
Anak keduanya sudah lulus dari ITB Teknik Informatika pada usia 19 tahun dan sebentar lagi akan berangkat ke Jepang untuk bekerja di sebuah perusahaan IT ternama di sana.
Anak ketiganya juga sebentar lagi akan lulus SMA pada usia 15 tahun dan akan segera memulai kuliahnya.
Saya pun terkagum-kagum dengan prestasi mereka sekeluarga.
Dan saya pun bertanya, apa sih rahasia kesuksesan mereka?

Pagi itu Jo menyetir sendiri Alphardnya mengantarkan kami dari Berastagi ke Taman Simalem Resort untuk melihat Danau Toba dari kejauhan.
Jo memulai ceritanya,”Anak saya mungkin bukan yang paling cerdas. Dan kemudian kuncinya adalah, saya tidak pernah menyuruh mereka menjadi juara kelas. Saya bilang kepada mereka bahwa ada beberapa mata pelajaran yang saya memperbolehkan mereka untuk hanya mendapatkan angka 6. Tetapi mata pelajaran yang menjadi passion mereka dan akan penting bagi mereka, mereka harus berusaha sekeras-kerasnya dan mencapai nilai yang maximum!”

Maksudnya?
Jo pun meneruskan ...
Kita sudah banyak mendengarkan cerita bahwa banyak sekali teman teman kita dulu yang rangking 1 ternyata setelah bekerja tidak berprestasi. Bahkan teman-teman yang berprestasi di rangking menengah justru berprestasi bagus di pekerjaannya.
Mengapa demikian?
Seorang juara kelas adalah seorang yang mempunyai nilai baik di semua mata pelajaran. Memang itu baik pada saat kita masih sekolah atau kuliah.
Tetapi di tempat pekerjaan, pernahkah anda melihat seorang executive yang hebat di kariernya, menjadi juara olahraga, juara lomba seni dan menjadi yang terbaik dalam ilmu agamanya? Menjadi yang terbaik dalam empat hal sekaligus atau mungkin malah lebih dari empat hal? Gak ada , atu gak mungkin kan?
Paling menjadi yang baik dalam hal dua hal saja, tidak tiga atau empat hal.
Apa artinya? Artinya kalau kita menyuruh anak kita menjadi juara kelas, kita akan menyuruh anak anak kita untuk mencapai nilai yang baik dalam semua mata pelajaran. 
Berarti mereka gak akan menjadi yang terbaik dalam bidang apapun dalam pekerjaan mereka nantinya, mereka hanya bisa menjadi Mister Average (rata-rata) dalam banyak hal.
Ingat bisnis dan karier anda tidak akan pernah menghargai orang yang berprestasi rata-rata.
Mereka hanya menghargai yang berprestasi terbaik.
Jadilah yang terbaik, dalam satu bidang saja, tapi tekuni dan bekerja keraslah, niscaya anda akan sukses kelak nantinya!

Jadi Jo hanya menyuruh anak-anaknya fokus pada pelajaran yang mereka sukai, di mana mereka mempunyai passion.
Jo tidak menuntut mereka menjadi juara kelas.
Jo bahkan tidak menyuruh mereka ikut program akselerasi,
mereka ikut atas inisiatif sendiri
Jadi anak-anaknya Jo memang mendapatkan nilai hanya 6 atau 7 di beberapa mata pelajaran, tetapi di pelajaran yang mereka sukai mereka mendapatkan nilai maximal.
Kebetulan anak pertama menyukai matematika dan biologi, maka dia memilih untuk masuk Kedokteran pada usia 15.
Anak kedua menyukai matematika dan fisika , dan akhirnya masuk Teknik Informatika ITB, juga di usia 15.
Saya membayangkan betapa “ramainya” raport mereka yang ada enamnya, ada tujuh, ada delapan , ada sembilan.
Sementara orang tua yang lain menuntut anaknya mendapatkan nilai maximal di semua bidang.

But may be Jo is right, look at where he is now, and where his children are now...
Saya yakin kita bisa belajar dari cara Jo mendidik anak-anaknya.
Pada saat mereka dibebani kurikulum yang berat, dengan jumlah mata pelajaran yang banyak banget (seriously for what?)
Mungkin sebaiknya kita tidak menuntut mereka berprestasi maximal di segala bidang.
Ingat anda tidak ingin mencetak generalist, anda tidak ingin mencetak Mr Average.
Ingat anda ingin mencetak mereka menjadi yang terbaik. Dan anda tidak bisa mengharapkan mereka menjadi yang terbaik dalam segala bidang (kasihan banget!)
Ingat kan, tidak ada Direktur Utama yang juara olahraga, juara seni dan sekaligus terbaik dalam hal agama.
Pasti mereka menjadi yang terbaik dalam satu atau dua bidang saja kan?
Nah! Itu yang dimaksud Jo!
Bantu anak anda menemukan passion mereka, dan tuntut mereka untuk bekerja keras dan menjadi yang terbaik dalam hal itu!

It worked for Jo, it worked for Jo’s wife, it worked for Jo’s children.
I am sure we can learn from them!

How to do it?

1. PASSION: Help them to find their passion

What do your children  enjoy doing? Keep trying. Coba dan explore. Experiment. Kalau tidak passion di satu bidang coba lagi yang lain, sampai akhirnya ketemu bidang yang dia sukai.

2. PATH

Help them to Create their own (unique) path to achieve their dream.
Bahwa ada seribu jalan menuju ke Roma.
Mengertilah bahwa passion dan juga path mereka menuju sukses akan berbeda beda.
Jangan menyuruh anak anak anda untuk mengikuti jalur yang sama. Hargai perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain.
Jalan yang baik buat satu anak anda belum tentu menjadi jalan yang tepat buat anak yang lain.

3. PROCESS

Help them to understand that it will take a long process, persistence and perserverance to get there .
Setelah mereka menemukan passion dan membangun path mereka, merek harus mengerti bahwa prosesnya itu mereka tetap harus bekerja keras.
Jangan sampai mereka terbuai dengan mimpi mereka, tapi terus terusan bermimpi.
Sampaikan pada mereka bahwa kerja keras adalah jembatan antara mimpi mereka dan realitas yang akan mereka capai.

4. PERFORMANCE

They have to perform at their best in what they do!

Sampaikan pada mereka, kompetisi di masa depan akan semakin susah.
Mereka harus mencapai yang terbaik untuk memenangkan kompetisi, menjadi yang terbaik, dan mendapatkan kehidupan yang layak dan menyenangkan!

5. Celebrate at the PEAK
Jangan lupa reward, celebrate dan memberikan hadiah pada mereka pada saat mereka mencapai keberhasilan!

Ingat, untuk meyakinkan bahwa anak anak anda berprestasi maximal, di sekolah, dan di karier mereka nanti, lakukan kelima langkah ini ....

1. Help them to find their PASSION
2. Help them to build their own PATH
3. Tell them about the long and tiring PROCESS that they have to go through, build the persistence and perserverance to get there .
4. Ask them to produce their best PERFORMANCE when they do things according to their passion
5. Celebrate at the PEAK
         Reward dan beri hadiah ke 
        mereka pada saat mereka       mencapai keberhasilan.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Sent from my iPhone

Kamis, 04 Januari 2018

Doa

*๐ŸŒ‹KEKUATAN DO'A ORANGTUA YANG DAHSYAT UNTUK ANAKNYA*๐ŸŒ‹

_Syaikh Fahad Al Kandari bercerita:_

_Dulu saat mengimami sebuah masjid di Kuwait, saya lupa sebuah ayat. Ternyata, ada seorang yang mengoreksi bacaan saya. Hanya seorang, yang ternyata ia adalah kakek tua._

_Saya tertarik untuk menemuinya._

Syaikh Fahad: 
_*Kek, anda hafal Qur'an ya?*_

_*"Iya, benar".*_

_Syaikh Fahad:_
_*Masya Allah, tentu anda hafal sejak kecil kan?*_

_*Tidak Syaikh. Saya malah baru mulai menghafal sejak usia 60 tahun.*_

_Syaikh tertegun._

_Syaikh Fahad:_
_*Masya Allah, bagaimana mungkin? Bagaimana ceritanya? Bukannya itu sulit ?*_

_*Tidak juga. Mungkin salah satu penyebabnya, adalah ibuku.*_

_*Ada satu hal yg selalu ia lakukan, tak pernah ia tinggalkan hingga beliau meninggal.*_

_Apa itu?_

_*Ia tidak pernah berhenti mendoakan ku agar hafal Al-Qur'an...*_

---------

_Suatu ketika ada yang bertanya kepada seorang ibu yang berhasil membesarkan 9 anaknya, mendidik dan menjadikan mereka manusia berakhlak dan berguna bagi agama, negara, bangsa dan sesama._

_Apa rahasia di balik keberhasilannya ?._
_Jawabnya adalah:_
_*Do'a yang tak henti-henti dipanjatkan untuk anak-anaknya tersebut .*_

1. *_Allahummaj'al aulaadana kulluhum shaalihan wa thaa'atan_*
_Yaa Allah jadikanlah anak-anak hamba orang yang sholehah dan shaleh yang taat beribadah kepadaMu._

2. *_Wa ummuruhum thowiilan_*
_Panjangkanlah umurnya yang barakhah._

3. *_War zuqhum waasi'an_*
_Luaskan dan lapangkan rizkinya yang halal._

4. *_Wa 'uquuluhum zakiyyan_*
_Cerdaskan akalnya untuk kebaikan dunia dan akhirat._

5. *_Wa quluubuhum nuuran_*
^Terangilah kalbunya untuk urusan agamaMu._

6. *_Wa 'uluumuhum katsiiran naafi'an_*
_Karuniakan ia ilmu yang bermanfaat untuk urusan kebaikkan dunia dan akhirat._

7. *_Wa jasaaduhum shihhatan wa 'aafiyatan_*
_Sehatkanlah jasmani dan rohaninya yang dengan itu memberikan ketenangan dalam melaksanakan ibadah hanya kepada-Mu._

8. *_Birahmatika yaa arhamar raahimiin_*
_Dengan segala Rahmat-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang._

_*PENTING :*_
_*Panjatkanlah doa di atas itu sesering mungkin. Syukur jika dipanjatkan tiap habis shalat 5 waktu.*_

_*Karena doa orangtua termasuk doa yang terkabul, dan tidak memiliki penghalang menuju Allah*_

_Rasulullah SAW bersabda :_

_*ุซَู„َุงุซُ ุฏَุนَูˆَุงุชٍ ู…ُุณْุชَุฌَุงุจَุงุชٍ ู„ุงَ ุดَูƒَّ ูِูŠْู‡ِู†َّ: ุฏَุนْูˆَุฉُ ุงู„ْูˆَุงู„ِุฏِ، ูˆَุฏَุนْูˆَุฉُ ุงู„ْู…ُุณَุงูِุฑِ، ูˆَุฏَุนْูˆَุฉُ ุงู„ْู…َุธْู„ُูˆู…ِ*_

_*“Ada tiga macam doa yang mustajab, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu : doa orangtua, doa seorang musafir, dan doa orang yang terzalimi"*_
(HR. Al-Bukhari / Al-Adab, Al-Mufrad-32, Abu Dawud)

_Ayah, Ibu, jangan pernah engkau remehkan kekuatan doamu untuk anak-anakmu..._

_*Jikapun belum terkabul sekarang, mungkin kelak, ketika engkau telah tiada...*_

_*Mahkota Dzikir*_:๐Ÿ‘‘

_Laa ilaaha illAllahu wahdahu laa syarikalah lahul mulku wallahul hamdu wahuwa  'alaa kulli sya'in qadiir._

2. _*Mahkota Tasbih*_:๐Ÿ‘‘

_Subhanallah wabihamdihi 'adada khalqihii waridha nafsihii wa zinata 'arsyihii wa midaada kalimaatihi._

3. _*Mahkota Doa*_:๐Ÿ‘‘

_Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil 'aakhirati hasanatau waqinaa 'adzaa bannaar._

4. _*Mahkota Istighfar*_:๐Ÿ‘‘

_Allahumma Anta rabbii Laa ilaaha illaa anta, khalaktani wa anaa abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wawa'dika mas tatha'tu, a' uudzubika min syarri maa shana'tu, wa abuu'u laka bini'matika 'alayya wa abuu'u bidzanmbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirufz dzunuuba illaa anta. Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil Ardhi walaa fis-samaa-i wahuwas samii'ul 'aliim._

6. _*Mahkota Pelepas Bencana*_:๐Ÿ‘‘

_Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzhalimiin._

7. _*Mahkota Penenang Hati*_:๐Ÿ‘‘❤

_Laa haula walau quwwata illaa bilaahil 'aliyyil 'adzhiim._

_*Saudaraku...*_
_Jadikanlah Mahkota-mahkota ini menghiasi kepala dan membasahi Lisanmu._

_*Mari amalkan karena engkau tidak tahu pahala mana yang akan memasukkanmu ke dalam Surga Allah..*_

_*Aamiin Allahumma Aamiin.*_