WHO AM I? WHERE AM I?
Jangan salah mengira. Perempuan yang ada di foto ini bukanlah si mbok mban nya anak saya. Itu saya, mommy nya.
Sekitar sepuluh menit sebelum ia berangkat sekolah, saya minta dia duduk sebentar supaya saya dapat mengujinya dalam Maths Mental Sum.
Belum sempat saya mandi pagi tadi, karena subuh-subuh saya memasak lauk untuk sarapan dan bekal anak saya. Kemudian saya memandikan anak saya yang kecil, ketika yang sulung sedang mandi.
Memang benar apa yang dikatakan di dalam kutipan-kutipan itu,
"A mother is a housekeeper, a teacher, a chef, an organizer, a nurse, everything."
Hanya saja ini berlaku buat para ibu yang memang mengalami ini lahir dan batin. Karena pada kenyataannya banyak juga ibu di dunia ini yang tak mau susah payah demi kesejahteraan rumahnya. Bukan karena ia bekerja di luar rumah atau sebuah kondisi yang mengharuskannya demikian, tapi semata-mata karena dia tak mau repot.
.......
Apakah nilai saya sebagai seorang ibu lantas turun drastis karena saya berpakaian seperti ini dan terlihat lelah?
****
Pada zaman ini, kaum ibu hanya ingin menampilkan satu sisi kehidupannya. Salah satunya karena kemajuan teknologi memberikan fasilitas dimana orang yang tidak dikenal secara pribadipun dapat menilai, apakah kita keren atau tidak.
Gambaran ibu-ibu masa kini dimana ia memeluk atau menggendong anaknya dengan tertawa lepas, seolah-seolah dialah ibu paling bahagia di dunia. Padahal kenyataannya ia merasa lelah dan hampa mengurus anaknya.
Atau gambaran menggendong atau mengurus anak-anak hanya sebuah "scene foto." Setelah foto usai, anak diberikan kepada pengasuhnya.
Gambaran dimana ia foto-foto bersama dengan teman-teman wanitanya. Semuanya menampilkan sosok ibu-ibu zaman now yang gorgeous, eksis, kekinian, "mahmud", "hot mama", mewah, dan cetar.
Padahal dibalik semuanya itu, sebenarnya ia kesepian dan bingung dengan tujuan hidupnya. Ia terus berpikir bahwa "keren" adalah bagaimana orang harus menilai dirinya sebagai ibu.
Kaum ibu berlomba-lomba menampilkan sisi dirinya yang kemilau menurut ukuran dunia, sehingga terkadang ia malah lupa untuk menampilkan sisi terbaik dari dirinya yang sebenarnya.
Ketika ia terlihat lelah mengurus anak-anaknya.
Saat ia sedikit kelabakan mengurus rumahnya.
Pada waktu ia berbicara di telepon dengan girlfriend untuk tanya resep kue.
Atau waktu ia menghapus air mata kesedihannya ketika pasangannya tidak memahami dirinya.
Hal-hal yang manusiawi, yang hampir semua ibu mengalaminya.
****
Dunia saat ini memang terkadang dengan kejam menuntutmu untuk jadi ibu yang super. Termasuk kalau perlu kecantikan dan materi mu harus super.
Itulah yang ingin berusaha kau penuhi untuk dirimu sendiri. Itu yang kau ingin kejar dan tunjukkan pada mereka semua di luar sana, bahwa kau mampu menjadi seperti itu.
Dan kau jadi hilang arah, ibu.
Frustasi dan memaksa.
"Jangan sampai kalah dengan si itu!"
Segalanya jangan sampai kalah dengan ibu yang lain: soal gaya, tentang arisan, tentang outfit of the day, tentang tas, sepatu, pakaian anak, pesta ulang tahun, atau holiday.
Tidak heran banyak ibu terlihat seperti cacing kepanasan tanpa ia sadari.
Ia hanya tampak seperti "wanita-keren-biasa," bukan terlihat seperti seorang IBU.
Dan who knows apa yang ada di dalam hatimu yang sebenarnya?
****
Kadang-kadang kita hanya perlu menikmati dan mensyukuri peran sebagai ibu ini di dunia.
Tidak mencoba merekayasa atau mengejar kebahagiaan semu yang mengalihkan perhatianmu sejenak dari peran abadimu di kehidupan ini.
Mungkin saja kau sering lelah, tapi ketika masih bisa berkata,
"I do not lose myself," maka di momen itulah kau akan tahu, bahwa kau betul-betul berbahagia dengan anugrahmu menjadi seorang ibu.
Entah kau punya atau tidak punya.
Apakah kau pintar atau kurang pintar.
Atau apakah kau sendiri atau bersama suamimu.
Be original, be yourself.
Emak Rahel Yosi Ritonga 💋
Tidak ada komentar:
Posting Komentar