Minggu, 24 September 2017

Bianglala perasaan

Bianglala Perasaan

Krenyes.
Begitulah respon dari sebuah organ bernama hati ketika membuka jalur nostalgia. Padahal bukan hati, yang sebenarnya memproses informasi. Tapi manusia lebih suka menuduh hati, untuk mengulang rasa yang pernah ada.

Nostalgia bisa berupa apa saja.
Dan pada wanita, nostalgia bisa membusukkan atau meranumkan jiwa.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika menghirup kopi pahit pagimu. Apakah yang terkenang adalah semangat menuju kantor lamamu atau momen bersama dia yang sempat menemani namun bukan jodohmu.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika menelusur email dan melirik notifikasi LinkedIn-mu. Apakah yang terkenang adalah sekian jadwal meeting dengan expat ala-ala atau hari terakhir bekerja dimana kau berpamitan dengan ceria demi tujuan membersamai buah hati di rumah dari tangan pertama.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika membereskan file ijazah pribadi dan suamimu. Apakah yang terkenang adalah kompetisi konstruktif kala usia sekolah atau ke-belum-ikhlasan meminang gelar mulia ibu rumah tangga.

Kaulah yang berkuasa memilih setting mood untuk harimu. Bukan nostalgiamu yang lewat sepintas merayu kesadaranmu.

Ketika seorang wanita, sementara memilih untuk khusyuk pada peran keibuan yang tidak ingin ia operkan, maka akan selalu ada "bianglala perasaan" dalam nostalgianya yang berloncatan.

Yang terkadang meluncur cepat ke bawah, hingga melenyapkan keberanian karena mata yang ciut membasah. Memaksa diri sendiri tersungkur pada rasa rendah diri. Padahal yang terjadi hanyalah medan aktivitas yang berpindah posisi, dan job description yang lebih bervariasi.

Dan terkadang berputar ke atas, hingga sudut pandang meluncur bebas. Membuka kata tentang heterogenitas semburat warna pada cakrawala. Bahwa wanitapun akan mampu bertengger kuat dalam pilihannya, selama ia berlindung dalam jernihnya prioritas dan iman yang tidak terkelupas.

=====

Biarkan menjadi lagu lama, mitos bahwa ibu rumah tangga adalah kasta yang tidak prima.
Biarkan menjadi pilihan kekinian, bahwa menjadi ibu rumah tangga eks sarjana 1-2-3 hingga eks bekerja adalah hasil kemantapan pemikiran.

Bianglala perasaan tidak lebih dari hirupan pada cangkir nostalgia yang berlebihan.

Sesap seperlunya semangatnya, tinggalkan ampasnya. Fokus pada tugas selanjutnya.

Ada tugas mengejar ilmu parenting, yang sekian belas tahun kita abaikan dengan dalih belum penting. Lihat anak kita, mana bagian dari dirinya yang terseok menambal kekurang-jelian kita dalam mengayomi jiwanya.

Ada tugas memupuk ikhlas dan sabar sebagai ibu dan istri, karena modal utama meramut rumah tangga adalah dari jernihnya hati. Lihat ke dalam rumah kita, apakah diisi dengan kerapian yang dingin atau berantakan yang justru menentramkan.

Ada tugas menguatkan finansial bersama suami, memetakan sumber-sumber penghasilan dan kebutuhan. Lihat ke dalam hati kita, apakah terus kemrungsung agar dada selalu membusung atau telah mampu menahan diri dari jumawa kesana kemari.

Ada tugas memupuk kualitas dan integritas diri dengan membaca atau selektif bersosialiasi. Mengacalah pada waktu yang habis saban hari, pada drama atau scrolling insta story.

Produktivitas akan melambungkan bianglala perasaan kita tanpa rasa kebas. Karena menjadi ibu, butuh kesungguhan dan ilmu, butuh membaca buku, butuh menggenapkan pergaulan dengan siapapun meski jalannya bersimpangan.

Bianglala perasaan tidak akan membawa kita kemana-mana, hingga kita yang memutuskan untuk menikmati pemandangan dari puncak atau meratapi nasib sambil mencak-mencak.

Setiap manusia, setiap wanita, berhak atas aroma nostalgia dan menjeratkan diri dalam klasiknya.

Jangan berlama-lama, karena bianglala perasaan akan mengundang kabut yang menyelimurkan.

Wanita, kadang tidak butuh apapun sebagai penguat pilihannya. Ia hanya butuh mengaktrol berulang bianglala perasaannya, agar tidak terjebak nostalgia. Agar mampu melebarkan horizon dan memahami betul bahwa kontrol syukur dan bahagia atas kehidupannya, ada di tangannya.

Bukan pada status ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Menggelenglah.
Buatlah diktum untuk dirimu sendiri.

🌷 Nafila Rahmawati 🌷

Jumat, 15 September 2017

Bangkit

🍃🍃🍃

INSPIRASI UNTUK BANGKIT... 

🍃 KITA tidak pernah bisa mendapatkan apa yg membuat kita bahagia... Kalau kita terperangkap dengan masa lalu.... 

Kalau kita ngotot.... 

Ingin mengubah sesuatu yg sebenarnya mustahil untuk bisa kita ubah itu yg namanya kebodohan.. Bodoh dan sangat bodoh... 

Kadang hidup ini kita harus berani melepaskan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik.. 

Kita harus berani.... 
Berani dan berani untuk melapaskan masa lalu.. 
Berani untuk melepaskan segala kepahitan... 
Segala duka.... Segala cerita.... 

Bukan karena hal itu tidak penting tetapi karena masa depan kita..tapi karena hidup kita jauh lebih penting.. 

Biarlah yang lalu berlalu..karena yang lebih indah sudah menunggu mengikuti kita pernah bertanya.-tanya.... 

Kenapa sih.... 

Allah ...kenapa ini harus terjadi... 
Kenapa musibah ini harus saya yang menjalani....??

Why Me.... Why Me?? 

Memang cuma kita saja yang pernah susah...?? 

Setiap orang pernah merasakan apa yang kita rasakan... 
Kesedihan... Kegagalan... Keterpurukan.... 

Akan tetapi itu bukan alasan... 
Tapi itu bukan alasan untuk mengasihi diri... 
Itu bukan alasan untuk mengalahkan keadaan.. Untuk apa...?? 

Tidak ada gunanya.. Hidup memang tidak selalu seperti yang kita mau ...
Tapi bagaimana kita melihat dan mengalaminya itulah yg lebih penting.. 

Semua hal sulit harus kita lalui... 
Semua kekecewaan itu harus kita rasakan... 
Semua tangis itu harus ada untuk menjadikan kita lebih kuat... Lebih siap dan lebih tangguh.... 
Jangan biarkan masa lalu menggerogoti kita.. 
Jangan biarkan kesedihan kemarin merusak kebahagiaan kita... 
Yang terjadi memang sudah terjadi... 
Terima semua dengan lapang dada dan lihat kedepan.. 

It's time to move on.. 
It's time for you to move on... 

Tidak peduli yang telah hilang dalan hidupmu.. 
Selama kita masih bisa mensyukuri nikmat yang Allah SWT,  berikan.. 

Kita tidak akan kehilangan apapun.. 
Hidup sedang menguji kita.. 
Jangan diam ditempat.. 
Ayo bangkit... 
Ayo sadar....... 

Jangan sesali yang sudah terjadi.. 
Jangan tangisi yg tidak ada... 
Bangkit... Lihat dan syukuri... Apa yang masih ada.... 

Hari ini bukanlah... Dimana kita menyerah dengan keadaan... 

Tapi hari ini adalah hari yang penuh dengan semangat untuk mencapai semua cita dan angan.. 

Selamat tinggal masa lalu dan selamat  datang hari yang baru penuh kebahagiaan ...dan harapan bahwa hari esok adalah hari yg baik.. 

Dan menjadi manusia lebih baik... Dan lebih baik lagi..... 

Wassalam, 
Semoga bermanfaat.....